Cerpen Fiksi Ilmiah Judul: Karena Sombong
Karena
Sombong
Pagi yang cerah, di daerah Bangli,
tepatnya di Kota Bangli, seorang pemuda sedang menikmati senja ditemani
secangkir kopi dan sebuah buku di tangan. Sedikit tidak jelas buku
apa yang dibacanya. Ooww, ternyata itu buku sejarah. Tercerminkan bahwa pemuda
ini gemar menilik kembali kejadian yang pernah terjadi di masa lalu.
Pemuda ini bernama Aditya. Asal
usul maupun kelahiran pemuda ini memang belum jelas karena kita tidak akan
membahasnya disini. Dia tinggal seorang diri di rumah pemberian orang tuanya.
Saat ini ia sedang menempuh pendidikan di universitas ternama di Bali. Di sela-sela waktu ia bekerja sebagai technical maintenance di kampusnya. Jadi, tugasnya memperbaiki printer, komputer, dan lain-lain. Kemana-mana ia akan membawa peralatannya.
Seperti biasa, dia sekarang sedang
membuka handphonenya. Tidak seperti kebanyakan pemuda yang isi feeds youtubenya
youtuber yang gemar pamer kekayaan berbeda dengannya. Isinya bervariasi.
Mungkin anda berpikir pemuda ini adalah seseorang yang terbuka atau istilahnya open minded, tidak selalu. Ia adalah
pemuda yang kepala batu. Tembok cina pun hancur dibuatnya - karena disundul,
ya. Bukan di sleding. Mungkin itulah sebab ia ditinggalkan keluarganya. Mungkin
saja. Saat ini ia sedang menonton
video berisi cara-cara membuat kerajinan tangan dengan bahan yang seadanya.
Seperti yang disebut tadi, apapun videonya mau ia tonton.
Karena bosan ia pun menaruh
handphonenya dan mulai membaca buku yang ada di pangkuannya. Dia mulai
menggeser halaman demi halaman menuju halaman terakhir yang ia baca. Dan
tiba-tiba terdengar suara notifikasi whatsapp
dari handphonenya. Biasanya ia akan mematikan notifikasi semua obrolan yang
ada di aplikasi tersebut. Tapi apa gerangan, ia tidak mematikan notifikasi pada
kontak ini. Apakah seseorang yang spesial baginya? Ternyata betul. Itu adalah
sapaan dari gebetannya.
Ia pun segera membaca notifikasi
tersebut, dengan senyum di wajah, dan jantung yang berdegup kencang.
“Dit, dua hari lagi kita trekking sekalian camping yuk, di Danau Tamblingan!” kata Laksmi. Itulah nama si gebetan.
Tanpa ragu-ragu ia pun membalasnya.
“Boleh deh.” Balas Adit.
Kemudian obrolan dilanjutkan dengan
basa-basi biasa yang dikatakan seseorang pada gebetannya. Tentang “udah makan
atau belom?” atau “sekarang lagi ngapain?” Dan pada akhirnya diakhiri dengan
kata “Ya udah, selamat malem ya Dit, jangan lupa nyiapin buat dua hari lagi,
nanti lupa lo kayak kejadian bulan lalu.”
Adit membalas “Iya babi. Yaudah,
selamat malam.” Ya. Disini tercermin juga sifat Adit yang pelupa. Namun bedanya
dengan orang lain, ia akan balas menyalahkan si lawan bicara jika ia lupa
terhadap sesuatu. Orang-orang terdekatnya pun memanggilnya sok pintar.
Sepertinya kita tidak perlu
membahas bagaimana Adit tidur, karena tidurnya juga seperti orang kebanyakan.
Tidak ada yang berbeda. Terutama membayangkan bagaimana jadinya trekking bersama gebetannya sebelum
terlelap.
Keesokan harinya, ia juga bangun
seperti kebanyakan orang. Bangun tidur, cuci muka, gosok gigi, tentunya mandi,
sarapan, tapi membersihkan tempat tidur ia lakukan sebelum mandi, dan tidak
diisi dengan membantu ibu. Ia pun memutuskan untuk pergi makan angin bersama
sahabat karibnya, Krisna. Mumupung hari ini ia sedang libur. Seperti anak muda
kebanyakan, akan pergi bersama kawan-kawan mereka menghabiskan waktu hingga
petang.
Ia pun berangkat menuju tempat yang
dituju, sebuah mall yang terletak di
pusat Kota Denpasar.
Beberapa saat setelah Aditya
sampai, ia pun bertemu sahabatnya, Krisna.
“Weeesss, giimana Kaden deketin
cewek nggak jadi-jadi pacaran.” Sapa Krisna.
Dan Aditya membalas dengan senyum
kecut di wajah, dan mata sedikit berkaca-kaca, karena yang dikatakan sahabtnya
mendekati fakta.
“Udah lah, aku cuma bercanda.” Balas
Krisna.
“Masih pagi juga lho, untung aku
baik. Kalo nggak pasti aku udah niggalin kamu dari dulu kalo kamu bukan sahabat
dari kecil.” Keluh Adit.
“Nggak juga kok, udah agak siang.”
Balas Agus. Ya, kebanyakan orang menganggap jam 9 pagi adalah siang. Mungkin
karena terbiasa dibanguni oleh ibu dengan cara “Bangun nak, udah siang.” Cara
ini seratus persen efektif. Penulis pun merasakan yang sama.
Mereka pun mengalihkan pembicaraan
dengan pergi ke restoran. Aditya tidak makan, dia biasa sarapan di rumahnya setiap
pagi. Krisna memesan satu porsi sarapan yang sudah agak telat.
“Makan Dit.”
“Udah kok, tadi pagi. Jangan jadiin
kebiasaan lho, sarapan telat. Belum lagi kalo-”
“Iya Dit, iya kamu bener. Tapi kan
aku semalem abis ngerjain tugas ampe begadang. Ujung-ujungnya malah bangun
siang-”
“Jangan jadiin bangun siang
kebiasaan juga lho. Gak baik buat kesehatan. Nanti bisa-”
“O iya, abis ini anterin aku beliin
adikku buu sekolah ya.” Kata Krisna memotong celaan Adit yang terkesan sok tau.
Dibalas dengan raut muka kesal Adit
sambil berkata “Yaudah deh. Cepet habisin makananmu.”
“Wes, santai dong, baru juga makan.
O iya gimana kabar doi?”
Seketika raut muka Adit berubah
menjadi lebih cerah.
“Iya, kemarin dia ngajakin aku
pergi trekking ke Danau Tamblingan, di deketnya kan ada hutan. Sekalian
camping-”
“Loh, kalian satu kemah? Nanti kalau
gimana-gimana? Kan bisa-”
“Nggak kok, ya pisah tenda lah.”
Beberapa saat setelah menghabiskan
1 jam makan dan berbasa-basi, mereka akhirnya memutuskan untuk pergi ke toko
buku, seperti permintaan Krisna.
Sesampainya di toko buku, Adit
bertanya “Emangnya mau beli buku apa, Kris?”
“Ini, mau beliin adik buku tentang
cahaya ama suara. Katanya buat bikin tugas sih.”
“Oh.” Mereka pun mulai mencari buku yang
mereka cari. Selagi Agus mencari-cari buku, tiba-tiba mata Adit tertuju pada
buku menarik. Dari jauh sekilas sampulnya memang menarik, namun setelah
mendekat, ternyata buku motivasi. Aditya menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Eits, aku nemu satu nih.” Sejenak
Aditya berhenti dan mulai membaca. Suara berasal dari benda yang
bergetar. Getaran tersebut kemudian menciptakan gelombang suara yang bergerak
melalui media seperti udara dan air sebelum mencapai telinga kita.
“Ya udah, aku beli buku itu aja.”
Kata Krisna. Buku itu pun dibeli olehnya.
Sesaat setelah Krisna membayar buku
yang ia beli, mereka langsung berjalan menuju lobby. Mereka saling berpamitan dan menaiki kendaraan
masing-masing.
Sesampainya di rumah, seperti
pemuda kebanyakan, mereka akan rebahan di bantalan surgawi mereka.
“Anjrriitt, udah jam enam aja.”
(ini enam sore ya, bukan enam siang). Rupanya Adit tidur terlalu lama. Namun,
dia merasakan bantalnya sedikit basah. Dia ternyata ileran. Dia pun dengan
tergesa-gesa bangun dan menyiapkan perlengkapan untuk camping.
“Udah, sih. Gak ada yang kurang.
Apa lagi, ya? Eh, itu udah. O iya, celana dalem! Itu juga udah. Sip lah.
Tinggal mandi!” katanya.
Setelah melakukan ritual biasa
sambil mandi, ia beranjak ke kasur, sambil mengambil handphone dan mengecek
obrolannya dengan si dia.
“Udah siap buat besok?”
“Udah dong!” Beberapa menit
kemudian Laksmi membalas.
Dan mereka pun melanjutkan
basa-basi biasa mereka.
“Ya udah, aku tidur ya. Kamu juga
lo, jangan tidur larut. Nanti bisa sakit.” Aditya memang sosok cowok yang perhatian.
“Iya, selamet malem, ya.”
“Iya, malem juga.”
Suara alarm berbunyi, dengan
suaranya yang telah Adit dengar beribu-ribu kali. Adit pun terbangun.
“Yess, saatnya kita berangkat!”
katanya dengan penuh semangat.
Setelah melakukan ritual pagi, ia
berangkat dengan motornya menuju Danau Tamblingan arah jarum jam tepat di angka
5. Waktu perjalanan dari rumahnya, Bangli, menuju Danau Tamblingan yang
terletak di Buleleng kurang lebih 3 jam. Mengendarai motor adalah salah satu
hobinya. Itu sebabnya ia terbiasa dengan perjalanan waktu yang lama menggunakan
motor.
Pemandangan di Bali memang tak ada
habis-habisnya. Walau sekarang beberapa tempat sampah masih berserakan. Tapi,
itulah yang para pengendara motor sukai. Pemandangan yang memukau mata.
Setelah matanya dimanjakan oleh
pemandangan indah di sepanjang perjalanan, akhirnya Aditya sampai di tempat
tujuan.
Dia pun langsung menghampiri
Laksmi.
“Udah dari tadi?” Tanya Adit.
“Iya, tapi gak begitu kerasa sih,
aku ama temen-temen soalnya.”
“Oh,gitu.”
“Iya. Eh, gak lupa bawa
barang-barang kan?”
“Enggak, lah.” Balas Adit sambil
tertawa dan mendorong lengan Laksmi.
Mereka pun melanjutkan aktivitas
mereka.
Saat mereka sedang melakukan
trekking, sesekali Adit mencuri pandang. Dan saat Laksmi menoleh ke arah Adit,
ia langsung memalingkan kepalanya. Namun pemandangan yang ada memang dapat
mengalihkan perhatian para pengunjung.
“Teman-teman, kita berhenti disini
sambil beristirahat sejenak.” Kata sang instruktur sambil duduk di sebuah
bongkahan kayu. Tak lama setelah duduk, sang instruktur mengusap-usap perutnya.
Rupanya ia kemarin makan mi instan basi. Biasa, anak perantauan hidupnya memang
menyedihkan, apalagi di awal bulan. “Sayang kalau dibuang.” Ujar sang
instruktur kemarin di kos-kosannya yang sederhana. Ia pun langsung lari ke kamar kecil yang tidak jauh dari tempat
peristirahatan mereka.
Adit dengan secepat kilat langsung
duduk di sebelah Laksmi.
“Mm, Laksmi, aku mau nanyain kamu
sesuatu boleh, ya?” Tanya Adit. Apakah ia ingin menembak Laksmi?
“Boleh, kenapa Dit?”
“Mm, aku udah lama-“
“Laksmi, udah dipanggilin tuh ama
instrukturnya. Yuk.” Ajak teman-teman Laksmi.
Adit pun menghela nafas yang sangat
panjang. Ia tidak akan menyerah begitu saja. Ia pun menghirup nafas yang
panjang dan melanjutkan langkahnya.
Hari mulai gelap, dan para
pengunjung melakukan aktivitas mandi cuci kakus, dan terlihat beberapa
pengunjung, bersama Adit sedang bermain gitar sambil bernyanyi. Seperti
biasa, senja tidak dapat dinikmati tanpa secangkir gelas.
Terlihat Laksmi keluar dari arah
tendanya. Ia berjalan bergandengan tangan dengan teman-temannya. Adit dengan
agak ragu-ragu terbangun, dan langsng menyerahkan gitarnya kepada temannya.
Mungkin karena cara menyerahkannya agak keras, muka temannya terlihat agak
kesal.
“Laksmi, aku mau ngomongin sesuatu
nih.”
“Mau ngomongin apa? Oh, yang tadi?
Iya, kenapa Dit?”
“Berdua aja, yuk”
“Dit, jangan pergi jauh-jauh, nanti
bisa kesasar.” Kata salah satu temannya, diiringi oleh anggukan temannya yang
lain.
“Santuy, aku nggak bakal kesasar
kok! Aku udah baca petanya. Kan aku Aditya, ya nggak?”
“Ya udah, hati-hati aja. Udah kita
peringatin lo!”
Sayangnya, Adit hanya merasa tahu
arah kemana yang akan ia tuju. Namanya juga kepala batu.
Mereka pun berjalan ke arah yang
agak sepi dari ramainya perkemahan.
Anehnya, mungkin tanpa sadar karena
lupa, Adit masih menggendong tasnya. Adit pun memulai pembicaraan mereka.
Rasanya hati mau meledak. Mungkin itu adalah ungkapan yang cocok untuk Adit.
“Laksmi, aku udah lama banget mau
ngomongin ini. Sebetulnya, aku itu-“
Baru saja ia ingin nembak si
Laksmi, terdengar suara semak-semak yang bergesekan. Adit dengan secepat motor
berlari. Eits, tidak lupa ia menarik tangan Laksmi sambil berteriak dengan
suara yang nggak laki banget.
“Setaaaaaann!” Teriak Adit.
Ternyata, itu hanyalah suara seekor
anjing yang sedang membuang hajat. Disebelahnya, ada hantu yang siap menakuti.
Orang awam memanggilnya setan. “Baru juga mau nakutin. Setan emang.”
Karena kecerobohan Adit, mereka
berada di wilayah yang tidak mereka ketahui. Adit langsung mengeluarkan senter
dari tasnya. Raga maju, raga pun rapuh.
“Aduh, gimana nih. Udah tersesat,
gagal nembak lagi! Laksmi bakal benci aku gak, ya?” Gumam Adit di dalam hati.
“Gara-gara kamu, sih. Kita tersesat
kan jadinya!”
“Kan bener.” Gumam Adit dalam hati
– lagi.
“Ya udah, kita harus mikirin cara
untuk keluar.”
“Ya caranya gimana? Kita aja nggak
pernah ke sini sebelumnya?”
Sial benar nasib Aditya ganteng
ini. Maju kena, mundur pun kena.
Adit pun berfikir. Saat berfikir,
ia melihat sampah yang berserakan di depannya.
“Banyak banget sampahnya. Bali
katanya asri, asri sebelah sana, eh sebelah sini engak.” Kata Adit sambil ber
basa-basi. Kelihatannya Laksmi masih cemberut.
Tiba-tiba terlintas dipikirannya
tentang video yang ia lihat dua hari yang lalu di youtube, cara membuat speaker
buatan tangan. Ia pun langsung mengambil kardus dan sebuah bohlam di depannya.
Ia mencabut baterai dari senternya. Ia juga menemukan beberapa kabel tak
terpakai. Sambil ia membua alat yang ia pikirkan di otaknya, Laksmi melihat
dengan raut muka yang bingung. Ia mengeluarkan semua peralatan dari tasnya, yang kebetulan ada peralatan yang ia bawa untuk memperbaiki printer di kampusnya.
Solder, gunting, dan lainnya. Berkat ketenangannya, ia berhasil menyelesaikan
masalah ini.
“Tak coba, ya.” Katanya
Sesaat setelah ia menekan tombol
yang ada di alat tersebut, terdengar suara alarm yang cukup jelas.
Tak begitu jauh dari tempat itu,
seorang pemuda yang mengenakan baju dan celana rumah, terlihat sedang buang air
kecil di semak-semak. Pemuda itu mendengar alarm tersebut dan ia pun berlari
ke arah suara. Rupanya pemuda itu Krisna. Apa gerangan yang membuat ia ada
disana? Pastinya ia kecing sembarangan karena toilet sedang penuh.
Krisna pun tiba di tempat Laksmi
dan Adit berada.
“Kalian rupanya.” Kata Krisna.
“Loh, kok kamu ada disini?”
“Udah lah, nanti aku jelasin.”
Mereka langsung mengikuti arahan
Krisna. Dan dalam sekejap mereka tiba di perkemahan.
“Tersesat kan?” Tanya salah seorang
Teman Adit?
“Enggak, kok. Kan aku-“
“Udah lah, makanya jangan keras
kepala.”
Dari tadi mereka bingung, mengapa
Krisna ada disini. Mereka pun menanyakan alasan
kehadiran Krisna di Danau Tamblingan.
“Ya, aku kan kerja sebagai fotografer. Ada klien yang pengin foto disini. Tapi, pas
aku mau balik tadi, bensin motorku habis. Di deket sini nggak ada pom bensin.
Ya udah, terpaksa aku tidur disini sampai besok. Kebetulan ada tenda ekstra.
Woi, makasi Pak Alfian!” Kata Krisna sambil melambai pada sang instruktur tadi.
“Oh, gitu.” Balas Adit sambil
tertawa dan mendorong lengan Krisna
Beberapa bulan setelah kejadian
itu, Adit pun nembak si Laksmi, dan diterima. Krisna dan Adit pun di senja yang
dingin, disertai angin yang memeluk tubuh mereka berdua sepoi-sepoi, sedang
nongkrong-nongkrong ganteng di sebuah pantai.
“Ngomong-ngomong, kok kamu bisa
kepikiran bikin alat itu, Dit?” Tanya Krisna.
“Karena aku pinter.” Jawab Adit
dengan singkat sambil didorong oleh Krisna.
Sejak saat itu, Adit tidak jadi
orang yang kepala batu dan sombong lagi. Tapi sifat usilnya, masih melekat
dalam diri Adit. Adit pun mulai tertarik untuk membeli buku motivasi yang ia
lihat di took buku beberapa bulan yang lalu.

+ komentar + 1 komentar
saya ganteng
Posting Komentar